AYAHKU PAHLAWAN PENJAGA ENERGI
- Nov 14, 2019
- 3 min read
Ayah.
Mungkin kau tak mengerti apa yang ada dalam hatiku.
Tapi cukup satu hal yang perlu ayah tau.
Aku ingin menjadi seperti dirimu.

Hai om dan tante, perkenalkan namaku Muhammad Bariq Ahnafi, panggilanku Bariq. Aku lahir pada tanggal 3 Desember 2018 yang artinya umurku sekarang baru 11 bulan. Pasti om dan tante pada heran, kok anak kecil udah bisa menulis dan bercerita ya. Eiiits tunggu dulu, ini karena aku dan ayahku memiliki ikatan batin yang kuat, hehehe. #ngeles

Oh iya, aku belum memperkenalkan orang tuaku. Ibuku bernama Rin Rin Fauziah, aku sangat menyayangi ibuku seperti ibu yang juga menyayangiku. Ayahku bernama Muhammad Fahmi Susanto, kali ini aku ingin bercerita mengenai ayahku dan pekerjaannya.
Orang tuaku berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Ayahku saat ini bekerja di PT Pertamina Gas. Kata ayahku PT Pertamina Gas adalah perusahaan yang bergerak dalam sektor midstream dan downstream industri gas Indonesia. Dimiliki oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) dan PT Pertamina (Persero), Pertamina Gas juga merupakan bagian dari Holding Gas di Indonesia yang berperan dalam usaha niaga gas, transportasi gas, pemrosesan gas dan distribusi gas, serta bisnis lainnya yang terkait dengan gas alam dan produk turunannya. Wah hebat juga ya aku masih ingat sama apa yang ayah ucapkan kemarin, hehehe. *padahal baru googling
Ketika ayah dan ibu menikah, ayah sudah ditempatkan bekerja di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Buat om dan tante yang belum tau, disini itu tempat pertama kali Kilang Minyak di Indonesia dibangun lho. Letaknya kurang lebih 2-3 jam dari Kota Medan. Aku suka tinggal disini meskipun jauh dari ramainya hiruk pikuk perkotaan, yang penting aku bisa selalu bersama ayah dan ibu.
Meskipun aku ini masih bayi tapi aku sudah tau sifat dan perilaku ayah sehari-hari. Ayahku itu orangnya senang berkompetisi, buktinya sebelum aku lahir, ayah sudah mengajak aku ikut lomba foto yang diadakan Pertamina dalam rangka memperingati hari kemerdakaan Indonesia. Aku tau karena dari dalam perut ibu aku mendengar suara ayah, “sebentar ya sayang, ulangi lagi tadi hasil fotonya kurang pas.” Aduuh, untungnya aku juga suka difoto, kalau nggak aku udah protes dan nendang-nendang perutnya ibu, hehehe.

Kata ibu, ayah itu bekerja sebagai operator di Control Station. Di sana ayah melakukan monitoring dan controlling penyaluran gas dari sumber gas hingga ke konsumen. Gas itu ternyata banyak kegunaannya lho om dan tante, bisa buat bahan bakar pembangkit listrik, mengoperasikan mesin-mesin di pabrik, bahkan menjadi salah satu bahan utama dalam pembuatan pupuk. Sebelumnya aku hanya tau gas itu dipakai ibu untuk masak makanan aku sehari-hari.
Meski ayah selalu curhat sama ibu kalau jabatannya itu tidak tinggi, tapi aku tidak malu karena ayah memiliki peran penting untuk menjaga gas tersebut bisa tersampaikan pada yang membutuhkan. Aku juga tau kalau ayah itu kerjanya ganti-gantian sama om-om yang lain. Jadi ayah itu kerjanya kadang berangkat pagi-pagi kadang juga berangkatnya malam-malam. Jadi saat aku, ibu, om, dan tante sudah tertidur pulas, ayahku masih bangun nonton bola. Eeeeh, maksudnya ayahku masih bangun terjaga mengamati kondisi operasional penyaluran gas yang ada di sana. Jika ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, ayahku lah yang sigap menghubungi pihak-pihak terkait, melakukan perhitungan dan penyesuaian perubahan pola operasi jika diperlukan.

Contohnya ketika tiba-tiba ada permasalahan dari sumber gas, sehingga tidak bisa melakukan pengiriman gas. Ayahku langsung berkoordinasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, melakukan perhitungan gas dalam pipa yang masih bisa digunakan, menginformasikan konsumen untuk menyesuaikan penyerapan, hingga tidak terjadi kerusakan pada peralatan yang dimiliki oleh konsumen tersebut.
Tanpa ayah sebagai ujung tombak, informasi mengenai kondisi di lapangan tidak bisa tersampaikan dengan baik. Nanti akan muncul kerugian baik dari sisi perusahaan maupun masyarakat pada umumnya. Contoh kecilnya bisa om dan tante bayangkan, kalau misalnya tiba-tiba di rumah mati listrik gara-gara gas untuk pembangkit listrik tidak mengalir, padahal rambutnya tante lagi di-rebonding, atau om lagi main PS 4 ama temennya, aduh repot lah pokoknya.
Ayah sudah melakukan tugas ini lebih dari 4 tahun. Aku kadang suka kasian melihat ayah yang baru pulang dari bekerja malam wajahnya lesu nampak kecapean. Tapi hebatnya ayahku, dia selalu tersenyum ketika aku datang menghampiri dan aku langsung disambut oleh pelukan. Aku juga sering tidur siang dengan ayah, karena kalau aku bangun aku gampang bosan dan pasti ujung-ujungnya gangguin ayah yang lagi istirahat.

Aku sangat bangga pada ayah.
Ketika ayah bersamaku, ayah menjagaku dan ibuku.
Tapi ketika ayah tidak ada di dekatku ayah berubah menjadi
Pahlawan Penjaga Energi.
Muhammad Bariq Ahnafi, 14 November 2019.




Comments