AKU DAN PERTAMINA
- Nov 26, 2017
- 5 min read
Tak akan ada yang tahu, jika aku dan dirinya sudah ditakdirkan.
Awal pertemuan yang kuingat kala itu, tak pernah terpikir bahwa hingga kini kita akan lewati setiap pagi dan juga malam bersama-sama.
Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara, lahir dari keluarga yang sederhana namun mengajarkan banyak makna. Almarhum ayahku adalah mantan pegawai di bidang konstruksi dan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang luar biasa. Aku dilahirkan di suatu kota yang orang lain belum tentu mengenalnya yaitu di Ruteng salah satu kota di NTT (Nusa Tenggara Timur). Saat aku muncul ke alam dunia adalah saat ayahku merantau dan bekerja di kota tersebut.

Tak terasa lima tahun telah dilalui, dan kami sekeluarga pun kembali ke kampung halaman yaitu di Tasikmalaya, Jawa Barat. Aku yang masih kecil dan belum mengerti hiruk pikuk kehidupan, tak tau alasan ayah tak bekerja lagi di tempat asalnya. Tahun pun silih berganti, semakin kita bertambah umur maka kita akan semakin mengerti perjuangan orang tua dalam membesarkan anaknya. Tak peduli pekerjaan apa yang dilakukan, asalkan halal dan masih ada untuk membayar biaya sekolah juga makan.
Ada tiga hal utama yang aku pelajari dari keluarga, yang pertama adalah kejujuran. Aku akhirnya tau alasan ayah kala itu berhenti bekerja. Selain karena ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih baik, terdapat pergolakan nurani di dalam batinnya. Pekerjaan yang digeluti saat itu banyak terdapat hal-hal yang tidak berkenan khususnya dalam hal kejujuran. Karena jika diibaratkan satu tetesan susu yang jatuh ke segelas air tak akan mampu mengubah warna dan rasa air itu menjadi seperti susu. Sedikit orang yang baik dan jujur akan sulit berhadapan dengan kebohongan yang sudah membudaya. Ayahku pun memutuskan untuk mencari nafkah dengan cara lain agar lebih berkah untuk kehidupan anak-anaknya.
Hal kedua yang kupelajari adalah tentang kemandirian, semenjak SD (Sekolah Dasar) aku hidup tidak dirumah orang tua tapi di rumah nenek. Selain karena lokasinya yang dekat dengan sekolah juga membuat aku melakukan berbagai hal seorang diri semenjak dini. Lalu yang ketiga adalah tentang rasa syukur, kebahagiaan bukan dari seberapa banyak yang telah kita raih dibandingkan dengan orang lain punya, tetapi dari seberapa banyak kita sadar apa yang telah kita miliki kemudian kita syukuri. Ketiga hal tersebutlah yang selalu aku tanamkan dalam menjalani kehidupan.

Awalnya cita-citaku adalah bekerja di sektor pertambangan, karena aku ingin mencarikan orang tua dan adik-adiku kebahagiaan. Impian mendapatkan penghasilan yang besar dan tak peduli meskipun ada jarak yang memisahkan. Cita-cita itu akhirnya kutuliskan pada sebuah papan dan kutempel di dinding kostan. Agar setiap hari bisa kubaca dan mengingatkan akan pentingnya suatu perjuangan. Namun ternyata apa yang kita inginkan belum tentu itu yang kita dapatkan. Karena Tuhan pasti lebih tahu apa yang sebetulnya lebih kita butuhkan.
Keinginan untuk bekerja di pertambangan harus kandas, karena waktu itu tidak ada perusahaan tambang yang membuka lowongan pekerjaan. Job fair di kampus saat itu memang banyak mengundang berbagai perusahaan, pada saat itu ada salah satu perusahaan yang menarik perhatian yaitu PT Pertamina Gas. PT Pertamina Gas adalah perusahaan yang bergerak dalam sektor midstream dan downstream industri gas di Indonesia. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang berperan dalam usaha niaga gas, transportasi gas, pemrosesan gas dan distribusi gas, serta bisnis lainnya yang terkait dengan gas alam dan produk turunannya.
Aku pun sadar bahwa kebutuhan energi alternatif selain minyak bumi pasti akan meningkat untuk beberapa tahun kedepan, kuyakin perusahaan ini merupakan salah satu anak perusahaan yang pertumbuhannya akan pesat dan pastinya akan didukung induknya PT Pertamina (Persero). CV (Curriculum Vitae) dan surat lamaran kerja pun berpindah tangan, kebiasan datang di pagi hari ternyata memberi suatu berkah karena beberapa temanku ada yang tidak diterima lamaran kerjanya dengan alasan belum melaksanakan wisuda, padahal kondisi dia persis sama denganku.
Saat itu aku tidak berharap banyak, karena Pertamina adalah perusahaan impian dan kemungkinan untuk bergabung amatlah kecil mengingat jumlah pelamar yang begitu membludak. Tapi aku tetap berusaha, berdoa, dan tidak lupa meminta restu orang tua. Satu demi satu ujian masuk berhasil dilalui, ada momen yang belum bisa kulupakan hingga saat ini. Ketika tes wawancara ada yang bertanya “Kamu ingin bekerja di Pertamina alasannya apa?” Lalu kujawab dengan spontan, “Aku ingin mengabdikan diri pada negara, karena pada saat kuliah aku telah mendapatkan beasiswa.” Mungkin terdengar klise tapi memang itu kenyataannya.

Pertamina bagiku seperti seorang ibu. Ibuku yang kebetulan juga berusia 60 tahun adalah seseorang yang sangat berjasa dan aku ingin membuatnya selalu bangga. Begitu juga saat aku bekerja di Pertamina, aku ingin membuat Pertamina bangga padaku. Menurutku pekerja Pertamina selain harus memiliki tata nilai 6C (Clean, Competitive, Confident, Costumer Focus, Commercial, Capable) dalam menjalankan perusahaan, juga harus mencerminkan perilaku terpuji di lingkungan masyarakat. Budayakan selalu 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) dan juga 3M (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, Mulai dari saat ini). Karena dari hal yang kecil itulah yang akan memiliki dampak besar.
Pertamina menjadikanku mengerti akan motivasi. Aku yang cukup aktif berada di media sosial menjadi tahu bahwa banyak anak muda yang sangat ingin bekerja di Pertamina. Mereka bertanya apa yang harus mereka lakukan agar bisa menjadi bagian dari keluarga besar Pertamina. Aku pun menjawab agar mereka belajar dengan giat, berdoa pada yang Maha Kuasa, meminta doa dari orang tua, dan jangan pernah menyerah untuk meraih cita-cita. Oleh karena itu aku pun terkadang membuat postingan mengenai ilmu migas yang kumiliki dengan selipan kata-kata penyemangat untuk mereka.

Pertamina membuatku sadar akan pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang banyak. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Setelah terjun langsung menjadi pekerja aku pun mengetahui bahwa banyak pekerja yang rela mengorbankan tenaga dan waktu pribadi mereka melebihi apa yang menjadi kewajiban mereka sesungguhnya. Hal itu semata-mata mereka lakukan dari hati, dengan menjunjung rasa nasionalisme yang tinggi demi kepentingan rakyat Indonesia.
Tak terasa sudah empat tahun aku bekerja di Pertamina. Meskipun aku tahu kontribusi yang kuberikan pada perusahaan ini masih jauh dari kata cukup, aku dan Pertamina sudah melewati hari demi hari bersama. Memastikan bahwa energi yang Tuhan berikan melalui perantara bumi mampu sampai ke tempat mereka yang membutuhkan. Memberikan tenaga pada pembangkit listrik dan menghidupkan pabrik-pabrik agar ekonomi semakin membaik.
Itulah sepenggal kisah tentang aku dan Pertamina. Aku sangat bersyukur telah bekerja di perusahaan ini. Aku ingin banyak dari teman-temanku diluar sana juga ikut bergabung agar bisa merasakan apa yang aku rasa. Perusahaan energi nasional inilah yang memberikanku sebuah kebanggaan. Mengingatkan juga diriku akan pentingnya sebuah pengabdian. Terima kasih Pertamina.

Umurmu yang 60 tahun tak terasa akan dilalui.
Kesulitan serta perjuangan telah dilewati.
Umur yang terus bertambah tak akan ada arti.
Jika kita semua sebagai pekerja tidak mengevaluasi diri.
Apa yang telah kita lakukan.
Untuk perusahaan dan negeri tercinta yang kita banggakan.
Jadilah lebih baik untuk tahun-tahun kedepan.
Bekerja sepenuh hati sesuai dengan tujuan yang kita cita-citakan.

Muhammad Fahmi Susanto – 19047244
26 November 2017




Comments